Home / Peristiwa

Minggu, 24 April 2022 - 00:49 WIB

Unjuk Rasa dan Pembunuhan di Pilkades Serentak Pamekasan

Belasan warga Desa Taraban, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan membuat kerusuhan di balai desa mendesak Pilkadea ditunda. Mereka merusak surat suara yang sedang dilipat oleh panitia Pilkades.(FOTO: KOMPAS.COM)

Belasan warga Desa Taraban, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan membuat kerusuhan di balai desa mendesak Pilkadea ditunda. Mereka merusak surat suara yang sedang dilipat oleh panitia Pilkades.(FOTO: KOMPAS.COM)

PAMEKASAN – Unjuk rasa, pembacokan hingga pembunuhan mewarnai tahapan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Pamekasan yang pelaksanaan pemungutan suaranya digelar pada 23 April 2022 di 72 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan.

Sedianya, pilkades serentak ini direncanakan diikuti sebanyak 74 desa, akan tetapi dua desa gagal, karena terkendala teknis.

Unjuk rasa tentang pelaksanaan pilkades digelar sejumlah warga di Kabupaten Pamekasan sejak sebelum pemkab menetapkan tanggal dan hari pelaksanaan. Sekompok massa mendesak agar pilkades segera digelar.

Terkait unjuk rasa itu, pemkab lalu menetapkan tanggal pelaksanaan pada 23 April 2020, dan massa yang sebelumnya berunjuk rasa ini menggelar aksi lagi menuntut agar pilkades Pamekasan ditunda lagi. Alasannya, karena bersamaan dengan bulan Ramadhan.

Tuntutan menunda pilkades juga disampaikan oleh ormas keagamaan yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya sama, seperti yang disampaikan pengunjuk rasa, yakni karena bersamaan dengan bulan Ramadhan.

Kata MUI, agar umat Islam fokus menjalankan ibadah puasa, sedangkan pilkades identik dengan tindakan yang berpotensi melanggar atau membatalkan pahala puasa, seperti marah-marah, bertengkar, atau saling bacok.

Unjuk rasa pertama kali terjadi di Desa Panaguan, Kecamatan Proppo, Pamekasan pada 9 Maret 2022.

Saat itu, sekelompok massa bercelurit datang ke skretariat pilkades, melakukan aksi protes karena lalu mengamuk dengan membanting kursi dan meja, karena karena panitia hanya meloloskan 1 dari 4 bakal calon kepala desa.

BACA JUGA:   Angin Kencang Robohkan Pepohonan dan Merusak Rumah Warga Pamekasan

Massa meminta agar pantia membuka pendaftaran ulang, namun panitia tidak menemui massa hingga mereka marah, dan merusak fasilitas di balai desa itu.

Sebelumnya pada 1 Maret 2022, calon Kepala Desa (Cakades) di Desa Batubintang, Kecamatan Batumarmar, bernama Miarto tewas dibunuh orang tak dikenal pada Selasa (1/3/2022) sekitar jam 16.30 WIB, di Jalan Desa Ponjanan Barat.

Miarto tewas dengan kondisi leher nyaris putus dan perut sebelah kiri mengalami luka sobek. Ia dibutuh saat sedang dalam perjalanan pulang menggunakan kendaraan roda dua, berboncengan dengan anak dan istrinya.

Kerusuhan berikutnya pada 22 April 2022. Belasan warga Desa Taraban, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, melakukan perusakan surat suara di balai desa setempat, dan aksi warga itu karena ingin menunda pelaksanaan Pilkades yang dinilai cacat hukum.

Kontributor Kompas.Com, Taufiqurrahman melaporkan, sebelum melakukan perusakan, massa berbondong-bondong masuk ke balai desa. Mereka langsung merangsek ke dalam kantor di mana panitia Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sedang melipat surat suara.

Pihak panitia Pilkades tidak melawan karena jumlah warga lebih banyak. Ketegangan di balai desa membuat Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pamekasan Ajun Komisaris Besar (AKBP) Rogib Triyanto turun tangan. Rogib mengimbau pada warga agar tidak membuat kerusuhan. Dia mengancam pihak yang memicu kerusuhan akan diproses hukum. “Saya tidak memihak siapa pun. Saya hanya menginginkan situasi kondusif. Yang mengganggu keamanan akan dipidana,” kata Rogib, seperti dilansir media itu.

BACA JUGA:   Aliran Listrik di Pamekasan padam Tujuh Jam Lebih

Sehari sebelum kejadian unjuk rasa di Desa Traban, Kecamatan Larangan, kasus berdarah seputar pilkades juga terjadi pada 21 April 2022 di Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Saat itu, Mat Tasid (32), pendukung salah satu calon kepala desa (cakades) Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, mengalami luka di kepala setelah ditebas menggunakan celurit oleh Ra’e (31), pendukung cakades lainnya.

Peristiwa itu bermula ketika Mat Tasid datang ke rumah Sidi, rumah pendukung cakades lawan. Dalam pertemuan itu, Mat Tasid terlibat perbincangan dengan Ra’e.

Mat Tasid menggunakan sebilah celurit hingga mengenai kepala dan membuat kulit kepala korban terkelupas. Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat dengan Pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan luka berat dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Polisi juga sudah menyita sejumlah barang bukti, di antaranya celurit milik tersangka, baju korban, dan pelaku. (PMK-MEDIA)

Share :

Baca Juga

Peristiwa

Hujan-Angin Putus Jaringan Listrik di Pamekasan

Lintas Daerah

Asrama Santri di Sampang Tertimpa Pohon Tumbang

Finansial

Pengusaha Subaidi Beri Rumah pada Yatim Almarhum Wabup Raja’e

Peristiwa

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Rumah Warga

Peristiwa

Angin Kencang Robohkan Pepohonan dan Merusak Rumah Warga Pamekasan

Hukum

Pola Penindakan Rokok Ilegal oleh Bea Cukai Madura Menuai Protes

Peristiwa

Tim Sakera Polres Pamekasan Tangkap Pelaku Curanmor di 11 Lokasi

Peristiwa

Abang Becak Pamekasan Ikut Meriahkan Gelaran MTQ XXIX