Home / Tajuk

Rabu, 27 April 2022 - 18:18 WIB

Nikah Batin

Ilustrasi pernikahan

Ilustrasi pernikahan

Nikah batin adalah nikah yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita pada malam pertama sebelum melakukan hubungan suami istri, setelah mereka melaksanakan nikah secara syariat Islam.

Nikah batin ini mencontoh kepada nikahnya Nabi Adam dan Siti Hawa di mana Allah SWT sebagai walinya dan malaikat sebagai saksinya dengan mahar dua kalimat syahadat yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan nikah batin merupakan ajaran yang terdapat dalam tarekat Syatariyyah Padang Pariaman Sumatera Barat.

Urgennya nikah batin tersebut dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kesempurnaan amalan seorang hamba, yakni secara syariat dan hakikat. Nikah batin dipahami masyarakat Kabupaten Padang Pariaman sebagai penyempurna pernikahan yang telah dilaksanakan secara syariat, agar diperoleh penyatuan batin antara suami dengan istri dalam rangka membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Hasil penelitian Yusri Amir, M.Ag dan Taufik Hidayat, MA, MH dari UIN Imam Bonjol yang dilakukan di Padang Pariaman menyebutkan, pemahaman masyarakat di kabupaten itu yang telah melakukan nikah batin, bahwa nikah secara sah yang telah mereka laksanakan berdasarkan rukun dan syarat sebagaimana yang telah diatur dalam fiqih Islam adalah nikah zahir. Oleh sebab itu pernikahan secara zahir belumlah lengkap jika tidak diteruskan dengan nikah batin, agar diperoleh penyatuan batin antara suami dengan istri dalam rangka membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Rukun Nikah Batin
Rukun nikah meliputi; (1) Suami, suami adalah pengantin pria yang telah menikah secara sah menurut rukun dan syarat yang telah ditentukan dalam fiqh. (2) Istri atau wanita yang telah menikah secara sah menurut rukun dan syarat yang telah ditentukan dalam fiqh. 3) Wali, wali dalam nikah batin adalah Allah SWT sebagaimana nikahnya Nabi Adam AS dengan Siti Hawa, sebagaimana telah menjadi kepercayaan masyarkat yang melaksanakan nikah batin di Kabupaten Padang Pariaman. 4) Saksi, saksi nikah batin tidak dipersaksikan oleh manusia akan tetapi oleh Malaikat sebagaimana pernikahan Nabi Adam, AS dengan Siti Hawa. 5), Akad, akad yang diucapkan oleh suami kepada istri dalam nikah batin adalah sebagai berikut:

BACA JUGA:   Hari Santri dan Momentum Berjihad Melawan Corona

Suami : Assalamu’alaikum ya babul Hawa
Istri : Wa’alaikum salam ya babul Adam

Ijab Suami: Aku nikahi engkau dengan maharnya “asyhadu alla Ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah”

Qabul Istri: Aku terima menikahi engkau dengan ”asyhadu anna Muhammadarasullah”

6) Mahar, mahar adalah kalimat syahadat

Tata Cara Nikah Batin
Tata cara nikah batin berbeda dengan nikah menurut fiqih, di mana nikah batin dilakukan setelah
pernikahan yang sah menurut aturan fiqih. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: (1), Dilakukan pada malam pertama sebelum melakukan hubungan suami istri. (2), Hanya dilakukan oleh kedua pasangan dengan wali Allah dan saksi Malaikat. (3), Dengan menjabat tangan istri, kemudian suami mengucapkan “Assalamu’alaikum ya babul Hawa” dan dijawab oleh istri “wa’alaikum salam ya babul Adam” dilanjutkan dengan lafal ijab oleh suami “Aku nikahi engkau dengan maharnya ‘asyhadu alla Ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah, kemudian istri menjawab qabul “Aku terima menikahi engkau dengan ”asyhadu anna Muhammadarasullah”. (4), Dilakukan dengan penuh kekhusyukan hingga sampai pada kurah (menghantarkan jiwa kepada Allah SWT) dengan durasi waktu 3-5 menit

BACA JUGA:   Sosok Yang Hilang di MTQ Jatim XXIX

Urgensi Nikah Batin bagi Masyarakat
Untuk melihat bagaimana urgennya nikah batin bagi masyarakat Kabupaten Padang Pariaman dapat
diperoleh informasi dari beberapa kelompok masyarakat. Pertama, pasangan yang telah melaksanakan
nikah batin. Kedua, para niniak mamak yang memberikan pituah adat dan nikah batin bagi kemenakannya yang akan melangsungkan akad nikah. Ketiga, para Tengku (ulama) tarekat Syatariyah
selaku pemimpin jama’ahnya.

Bagi masyarakat Kabupaten Padang Pariaman maka dapat disimpulkan bahwa urgensi nikah batin adalah: Pertama, Merupakan wadah untuk mendapatkan keharmonisan kehidupan dalam berumahtangga, karena melalui nikah batin terjadi penyatuan pandangan antara suami dan isteri tentang kehidupan berumahtangga. Jika hal ini sudah diperoleh maka kelanggengan rumah tangga akan mereka dapati dan terhindar dari perceraian, karena dalam pemahaman mereka banyaknya angka perceraian di pengadilan agama terjadi disebabkan pasangan tersebut tidak melaksanakan nikah batin;

Kedua, Nikah batin adalah penyempurna dalam menjalankan ajaran agama, karena ajaran agama itu
mempunyai pengamalan secara syara’ dan hakikat. Pernikahan di KUA adalah menjalankan syara’ dan nikah batin merupakan pengamalan secara hakikat.

Dengan nikah batin pasangan suami isteri itu telah menyempurnakan pengamalan ajaran agamanya dan begitu juga sebaliknya bagi orang tidak melaksanakan nikah batin. Karena itu, nikah batin dalam persepsi mereka merupakan suatu keharusan untuk melengkapi ajaran agama.

(Tulisan ini disarikan dari hasil penelitian Yusri Amir, M.Ag dan Taufik Hidayat, MA, MH dari UIN Imam Bonjol)

Share :

Baca Juga

Tajuk

Hari Santri dan Momentum Berjihad Melawan Corona

Tajuk

Sosok Yang Hilang di MTQ Jatim XXIX