October 14, 2021

pamekasan.net

Pusat Informasi Pamekasan

Gara-gara Cakupan Vaksinasi Rendah, Pamekasan Kembali ke Level 3

PAMEKASAN – Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, khususnya pasca status PPKM Jawa-Bali kembali diperpanjang hingga 18 Oktober 2021 mendatang dan status ini berlaku, karena cakupan vaksinasi di kabupaten ini rendah.

Naiknya status PPKM Level 3 untuk Kabupaten Pamekasan, tidak lepas dari capaian vaksinasi yang relatif masih rendah. Bahkan pelaksanaan vaksinasi di wilayah setempat, juga masih berada di bawah angka 50 persen. Padahal sebelumnya, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam telah mengklaim ke media massa, bahwa cakupan vaksinasi di Pamekasan sudah mencapai 70 persen.

Menurut Ketua Penanganan COVID-19 RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan dr Syaiful Hidayat, saat ini, cakupan vaksinasi di Kabupaten Pamekasan mencapai 20 persen (Versi Satgas COVID-19 Pemprov Jatim per tanggal 29 September 2021 naik menjadi 12,9 persen) dari total jumlah penduduk yang tersebar di 13 kecamatan, jauh lebih tinggi dibanding data per 16 Agustus 2021 yang saat itu baru mencapai 9,84 persen.

“Ini masih jauh dari target, karena target yang ditetapkan 70 persen. Di Pamekasan hingga kini tidak sampai 50 persen,” katanya dalam keterangan persnya kepada wartawan pada 7 Oktober 2021. [Baca Juga: Capaian Vaksinasi COVID-19 di Pamekasan Tak Sesuai Klaim Baddrut Tamam]

Fakta cakupan vaksinasi COVID-19 bagi warga Pamekasan, jauh dari klaim yang disampaikan pimpinan kabupaten ini, Baddrut Tamam, seperti dilansir sejumlah media pada Juni 2021. Kala itu, Baddrut mengklaim, capaian vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Pamekasan sudah mencapai 70 persen dari total jumlah penduduk yang tersebar di 178 desa dan 11 kelurahan se-Kabupaten Pamekasan.

Klaim bupati muda terbantahkan berdasarkan rilis Pemprov Jatim pada 16 Agustus 2021 dan disiarkan di website resmi institusi itu pada laman: jatimprov.go.id pada 18 Agustus 2021 yang menyebutkan, cakupan vaksinasi COVID-19 justri sangat rendah, yakni hanya 9,84 persen saja dari total jumlah penduduk, bukan 70 persen sebagaimana diklaim Baddrut Tamam.

Sementara itu, upaya untuk memperluas cakupan vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Pamekasan, maka berbagai upaya dilakukan. Diantaranya dengan membuat posko dan gerai vaksinasi di sejumlah lokasi di Pamekasan dengan sasaran para pengendara kendaraan bermotor.

Petugas gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri, yakni Polres Pamekasan, Dinas Kesehatan (Dinkes), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) digerakkan, termasuk menerapkan vaksinasi dengan cara jemput pola ke sejumlah pondok pesantren.

Sebelumnya, Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jatim dr Makhyan Jibril mengatakan, rendahnya cakupan vaksinasi di Kabupaten Pamekasan itu, di antara penyebabnya karena masih rendahnya tingkat literasi atau pengetahuan masyarakat terkait bahaya COVID-19 dan buruknya koordinasi di daerah.

“Ada beberapa faktor, pertama mungkin memang dari literasi masyarakat sekitar terhadap COVID-19 dan vaksinasi masih kurang,” ucapnya.

“Rendahnya literasi ditambah koordinasi yang belum maksimal jadi sulit. Minimnya koordinasi untuk menggelar vaksinasi massal, atau mempermudah jangkauan kepada masyarakat agar bisa menerima vaksin ini sangat diperlukan,” ujar Jibril, seperti dilansir CNNIndonesia pada 24 September 2021.

Senada, Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Erwin Ashta Triyono menyebut vaksinasi yang minim di lima daerah itu disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat.

“Vaksin ini tetap harus kita perjuangkan, rencana besok kita akan mencoba diskusi ulang dengan teman-teman dari kabupaten/kota yang masih di bawah 50 persen,” kata Erwin, kala itu.

Sementara itu, cakupan vaksinasi COVID-19 se-Jawa Timur, hingga 29 September 2021, mencapai 40,50 persen dari target 31 juta jiwa. Rinciannya, 12.891.110 orang sudah mendapatkan vaksin tahap pertama, 21,48 persen atau 6.835.947 warga divaksinasi dosis kedua. (Ismail/PMK-22)

%d bloggers like this: